1.11.10

Kompos bagi ekspor Hortikultura


Indonesia memiliki aneka produk pertanian khususnya hortikultura dengan ragam plasma nutfah dan varietas yang memungkinkan mendukung upaya pengembangan buah, sayuran dan bunga. Namun hasil tanaman hortikultura mempunyai sifat khusus antara lain :

1. Mudah atau cepat busuk ( perishable) , tetapi selalu dibutuhkan setiap hari dalam keadaan segar. Sejak panen sampai pasar memerlukan penanganan secara cermat dan efisien karena akan mempengaruhi kualitas dan harga pasar,

2. Memiliki nilai estetika, jadi harus memenuhi keinginan masyarakat umum. Keadaan ini sangat sulit karena tergantung pada cuaca, serangan hama dan penyakit, namun dengan biaya tambuhan kesulitan itu dapat diatasi,

3. Produksi umumnya musiman, beberapa diantaranya tidak tersedia sepanjang tahun, contohnya : Durian, Langsat, Rambutan, Manggis dan lain sebagainya,

4. Memerlukan volume ( ruangan volumenes) yang besar, menyebabkan ongkos angkut menjadi besar pula dan harga pasar menjadi tinggi,

5. Memiliki daerah penanaman ( geografi) yang sangat spesifik atau menuntut Agroklimat tertentu, contoh : Jeruk Tebas, Durian Balai Karangan, Langsat Punggur, Duku Palembang, Jeruk Garut, Mangga Indramayu, Markisa Medan, Rambutan Parit Baru, Nenas Palembang dan lain lain.

Demikian pula dalam kelompok hortikultura tanaman hias dan bunga potong. Kelompok tanaman ini berkembang sejak 1983 di DKI Jakarta, dataran tinggi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Timur. Kelompok bunga potong, tanaman hias pot, tanaman hias pohon, anggrek, anyelir, mawar, krisan, gladiol, dan lain sebagainya. Jumlah dan jenis jenis baru mulai meningkat seperti melon, jagung manis, brokoli, sedikit demi sedikit mulai berkembang.

Guna ikut serta mendukung perkembangan hortikultura nasional, CVSK dengan ini mengenalkan teknologi pupuk dan pemupukan melalui penyediaan pupuk bentuk tablet formula spesifik. Pupuk yang diproduksi dan diformulasi di tingkat pabrik tersebut berbentuk tablet, dengan berbagai pilihan ukuran 3 gram dan 10 gram. Setiap pupuk tablet terdiri dari kandungan makro primer NPK ( Nitrogen, Posfor, Kalium ) diperkaya unsur pupuk makro sekunder ( Mg, S, Ca) dan mikro esensial meliputi copper, Chlor, manganese, zinc, boron, molybdenum, iron ( Mo, Co, Mn, Fe, B, Bo, Cu, Zn, Cl ) . Pupuk Gramafix® menjamin kelengkapan, sedikitnya 13 unsur hara yang diperlukan tanaman tersedia dalam setiap tablet, yang sehingga karena kelengkapan unsur hara itu, Gramafix® tidak memerlukan tambahan unsur pupuk lainnya apapun - termasuk dalam hal ini pupuk Urea ( N) , pupuk Posfor ( SP) dan pupuk Kalium ( KCL) .

Disamping menyediakan pupuk kimia ( anorganik) berbentuk tablet, CVSK juga mendukung pengembangan hortikulltura dengan mengenalkan mesin pengolah limbah dan sampah organik organik menjadi kompos dan pupuk organik cair. Diketahui, petani hortikultura sudah sadar akan pentingnya penggunaan pupuk organik bagi hasil tanamannya, dibanding dengan kelompok petani perkebunan maupun padi. Apalagi produksi hortikultura ( sayuran, buah) saat ini paling banyak diekspor ke luar negeri yang mensyaratkan produk harus bebas residu bahan kimia berbahaya. Negara-negara tujuan ekspor hortikultura, saat ini, menerapkan peraturan ketat tentang batasan minimum kandungan kimia dalam produk hortikultura. Aturan tersebut mengacu pada prinsip keamanan pangan yang ditangani tim internasional Rapid Alerts System for Food and Feed ( RASFF) . Salah satu tugas tim RASFF adalah mengumpulkan informasi menyangkut seluruh fase produksi, transformasi, dan distribusi pangan dan pakan ( termasuk kelompok komoditi hortikultura) di sebuah negara. Hasil analisis dan kesimpulan kerja tim RASFF dijadikan dasar sebuah negara untuk meloloskan atau mengembalikan pengiriman ( ekspor) pangan di balai karantina masing-masing negara.

2 komentar:

Anggita mengatakan...

apa kedepannya pupuk kimia ini akan berefek pada tanah?

Posko Hijau (Green_Phoskko) mengatakan...

sebenarnya pupuk kimia diperlukan bagi tanaman, khususnya kelompok tanaman tahunan ( perkebunan, tanaman keras). Dalam takaran yang bijaksana, disertai pemberian pupuk organik, seperti kompos, efek merugikan berupa tanah mengeras dan matinya mikrobial, bisa ditekan.

Pupuk Kompos

Pupuk kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat pupuk kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar pupuk kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.

Posting Pupuk Kompos

Tempat Pelatihan Olah Sampah, Membuat Kompos dan Biogas

Memulai Pembuatan Pupuk Kompos

Memulai Pembuatan Pupuk Kompos
Menghijaukan Kota dimulai dengan penyediaan pupuk kompos diolah secara mandiri dari bahan sampah di rumah serta lingkungan

Pupuk Kompos HOME

Video Pupuk Kompos

Loading...

Pupuk Kompos (Composting ) Video

Loading...

Pembuatan Pupuk Kompos di Jerman

Pembuatan Pupuk Kompos di Jerman
Masyarakat yang lebih terdidik umumnya menyadari keterbatasan alam menyediakan sumberdaya bagi kehidupan manusia. Salah satu wujudnya adalah dengan mengelola dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi manusia. Sampah Organik dijadikan pupuk kompos dalam komposter, adalah pemandangan sehari-hari semua keluarga di negara maju.

Proses Pupuk Kompos (Composting Process)

Proses Pupuk Kompos (Composting Process)
Secara alami material organik- berasal dari keluaran makhluk hidup ( tumbuhan, hewan dan manusia) akan terurai menjadi humus. Alam telah memiliki mikrorganisma dalam tanah, memiliki Carbon dioxida di udara dan air. Kebutuhan adanya penguraian bahan organik ( sampah) untuk kemanfaatannya bagi manusia, membuat lahirnya teknologi pengomposan (composting) agar dekomposisi sampah menjadi cepat, tidak berbau dan menghasilkan polutan maupun lebih meningkatkan derajat manusia pengelolanya. Teknologi Phoskko ( berujud alat media Komposter Biophoskko, aktivator Kompos Green Phoskko dan Mineral Penggembur Green Phoskko) adalah salah satu pilihan teknologi yang sedang digemari masyarakat saat ini- karena kepraktisan dan efisiennya.

Pupuk Kompos bagian 3 R, Reduce-Recycle-Reuse

Pupuk Kompos bagian 3 R, Reduce-Recycle-Reuse
Mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah akan ikut menyelamatkan bumi dari kemungkinan semua hamparan bumi tertutup aneka sampah hingga tak ada lagi areal untuk menanam pohon dan bahan pangan.

Pupuk Kompos di Auto 2000

Pupuk Kompos di Auto 2000
Pada level perusahaan besar, Auto 2000 di Surabaya, misalnya, adalah pengguna paket teknologi Phoskko bagi pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos di Outlet Auto Servicenya di Sungkono Surabaya. Skala suatu outlet telah menyumbang pada penciptaan lingkungan bengkel menjadi resik, asyik dan unik dengan aneka tanaman obatnya yang memang harus dipupuk kompos.

Penguraian Organik Pupuk Kompos

Penguraian Organik Pupuk Kompos
Sampah diartikan sebagai material sisa yang belum mendapat pengelolaan. Dengan mengelolanya secara baik, bijak dan benar akan menjadikan sampah suatu sumberdaya baru yang sangat berguna untuk kehidupan manusia. Dalam kerangka mendayagunakan itulah perlunya analisis atas karakter berbagai jenis sampah dan mendapatkan teknologi yang tepat bagi pengelolaannya.

Video Pupuk Kompos

Loading...

Video Info Pupuk Kompos

Loading...
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Pencarian Kompos